Bisnis Kuliner

SUKSES BERBISNIS KULINER – 0838.5628.3234

Belajar dari kesuksesan para pebisnis kuliner, ternyata usaha tersebut bisa dibilang cukup mudah. Bahkan, Firmansyah Budi Prasetyo, pemilik usaha Tela Krezz, hanya dalam waktu 11 bulan mampu melebarkan usaha waralabanya hingga mencapai 250 gerai. Padahal, latar belakang pendidikannya dari fakultas hukum. Bermodalkan uang 3 juta rupiah, ia berani menapaki dunia usaha kuliner sekaligus tertantang untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Pola usaha waralaba Tela Krezz telah merambah hingga ke luar pulau Jawa. Omzetnya telah mencapai 300 juta rupiah per bulan.

Selain Firmansyah, ada juga seorang perempuan sukses yang berhasil meraup omzet hingga 850 juta rupiah dengan mendirikan usaha kuliner pisang ijo asal Makassar, yaitu Riezka Rahmatiana. Membawa merek dagang JustMine, ia memulai usahanya hanya dengan modal 2 juta rupiah. Wanita asal Mataram ini, melebarkan usahanya dengan pola waralaba hingga tersebar di Bandung, Jakarta, dan Bekasi. Menarik bukan?

Masih banyak lagi contoh-contoh kesuksesan para pengusaha kuliner lainnya. Dan, keberhasilan mereka diraih dalam usia muda. Ini menjadi bukti bahwa menjadi pengusaha sukses tidak perlu menunggu waktu tua dan dapat diraih oleh siapa pun yang memiliki impian untuk maju. Begitu pula dengan urusan keuangan, modal tidak perlu mesti besar. Yang paling penting adalah kemauan dan memiliki perencanaan dengan konsep-konsep tertentu yang telah teruji ampuh dalam mengembangkan usaha kuliner.

Di dalam bisnis usaha kuliner, ada satu keuntungan dibandingkan dengan usaha lainnya. Usaha ini bisa dibilang tidak ada matinya. Selama manusia hidup, selama itu pula manusia membutuhkan makanan. Terutama dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai 260 juta lebih. Tentu jumlah tersebut merupakan sebuah market yang besar. Bisnis ini juga dapat dilakukan di mana saja, asal memenuhi persyaratan ekonomis.

Apa saja yang mesti dilakukan sebelum memulai usaha kuliner agar berkembang maju? Mengenai perihal ini, Sugiyo akan menjelaskannya kepada Anda melalui bukunya, Sukses Berbisnis Kuliner. Penulis akan membekali Anda dengan panduan membangun usaha kuliner dari nol. Anda akan mengerti secara praktis tentang dunia usaha kuliner hingga berani menerapkannya atau mencobanya untuk meniru mereka yang telah sukses dalam bisnis kuliner.

Terdapat sembilan usaha kuliner populer yang dapat diambil sesuai kondisi Anda. Mulai dari kuliner ala gerobak, warung makan sederhana, rumah makan cepat saji, rumah makan tradisional, kafe, katering, kantin, hingga pujasera. Selain itu, di dalam buku terbitan mediakita ini dibahas pula pengembangan usaha, manajemen usaha, kisah sukses para pengusaha kuliner, hingga analisa usaha dan proposal pengajuan kredit.

5 Kunci Membangun Bisnis Kuliner

Menjadi seorang wirausahawan tidaklah mudah. Selain passion, Anda juga butuh ketekunan dan keuletan untuk sukses. “Dari sekian banyak usaha yang ada, ternyata banyak orang melirik bisnis kuliner karena dianggap lebih mudah dijalankan daripada bisnis lain,” tukas Ali Bagus Antra, pemilik usaha Bebek Garang dalam acara talkshow mengenai kiat mengatasi persaingan bisnis di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Salah besar jika Anda menganggap bisnis kuliner lebih mudah daripada bisnis lainnya, karena bisnis kuliner justru membutuhkan kreativitas, penanganan, dan risiko yang lebih besar. Namun, Ali Bagus memiliki beberapa tips teknis yang digunakannya untuk mulai menjalankan bisnis kuliner.

1. Pemilihan lokasi
Ketika memilih lokasi usaha, pilih tempat yang sesuai dengan target atau pangsa pasar Anda, dan strategis. “Usahakan pilih lokasi yang mendekati pangsa pasar Anda. Karena hal ini akan menentukan berapa banyak produk yang terjual,” jelasnya. Pemilihan tempat yang strategis jika tak diikuti dengan kesesuaian pangsa pasar yang dituju akan membuat produk Anda kurang diminati.

2. Pemasaran
Pemasaran produk memegang peran penting dalam kesuksesan bisnis. Tentukan cara promosi dan pemasaran yang efektif agar tidak menghabiskan terlalu banyak biaya. Ali menyarankan untuk memerhatikan target pasar sebelum berpromosi, karena beda target market-nya maka metode promosi yang dijalankan juga akan berbeda.

“Misalnya, penyebaran pamflet atau flyer tidak akan efektif ketika sasaran bisnis Anda adalah kalangan menengah ke atas, karena pamflet hanya akan dianggap seperti sampah kertas lainnya,” sarannya.

Ketika menyasar pasar high-class, maka spanduk merupakan cara yang paling efektif. Sedangkan untuk menyasar kalangan menengah ke bawah, flyer atau pamflet akan lebih baik.

3. Produksi
Ketika menjalankan bisnis kuliner, kualitas makanan harus menjadi prioritas. Kualitas makanan akan menentukan apakah pelanggan akan kembali menikmati makanan di tempat Anda atau tidak. Sisi lain dari produk, dari bahan baku, penyajian, layanan, hingga supplier, juga harus direncanakan dengan matang.

“Sudah seharusnya jika kualitas makanan harus selalu dijaga secara konsisten, dan sama enaknya dari hari ke hari,” tambah Ali. Selain itu, jika sudah memiliki cabang usaha, kualitas dan rasa makanan yang ada di setiap cabang juga harus selalu dijaga.

Di samping itu, cost control juga harus dijaga. Ali menyarankan untuk menghindari pemasangan harga jual yang fluktuatif dari hari ke hari. “Harga yang tidak konsisten atau berbeda di setiap cabang akan membuat pelanggan enggan untuk makan lagi,” katanya.

4. SDM
Sekalipun Anda pemilik usaha, hindari sikap bossy atau bertindak seenaknya. Karyawan merupakan aset penting yang dimiliki sebuah perusahaan, karena itu tak ada salahnya untuk memberi perhatian lebih kepada mereka. “Berikan payroll yang layak bagi mereka, selain itu juga kenyamanan dan jenjang karier yang jelas bagi mereka,” saran Ali. Peluang semacam ini akan membantu memompa semangat mereka untuk selalu giat bekerja dan mendatangkan keuntungan bagi usaha Anda.

Namun, sebagai bos Anda juga wajib menerapkan berbagai peraturan perusahaan, dan membangun kedisiplinan lingkungan kerja agar karyawan juga tidak bertindak seenaknya.

5. Keuangan
Jangan sepelekan masalah keuangan dalam bisnis. Buat perencanaan yang tepat dalam laporan keuangan dan neraca bisnis sampai sedetail-detailnya, agar tidak ada uang yang “hilang” sekecil apapun. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran yang dilakukan dengan teliti, karena catatan keuangan ini akan membantu Anda untuk mengontrol dan menghitung setiap detail bisnis. “Ini juga bisa membantu menganalisis berapa besar keuntungan usaha dan kecepatan balik modal,” tukasnya.

Selain itu, sekalipun sudah menangguk untung besar dari bisnis jangan terburu-buru untuk menikmati hasilnya dengan cara yang konsumtif. Ali menyarankan untuk selalu berpikir tentang re-investasi bisnis, misalnya dengan memperluas usaha atau membuka cabang baru.

8 Kesalahan Saat Berbisnis Kuliner

Bisnis kuliner termasuk yang menjadi pilihan banyak orang, karena dianggap jenis bisnis yang lebih mudah dilakukan daripada bisnis lainnya. “Padahal bisnis kuliner termasuk bisnis yang tergolong rumit karena membutuhkan banyak inovasi dan kreativitas yang berkelanjutan,” tukas Ali Bagus Antra, pemilik usaha Bebek Garang, saat talkshow ”Kiat Sukses Wirausaha dalam Menghadapi Persaingan” dalam acara Sedap Mighty Culinary di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Anggapan enteng mengenai bisnis kuliner membuat banyak pengusaha gulung tikar karena tak mampu menghadapi persaingan bisnis. Ali mengungkapkan, ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan para pelaku bisnis kuliner:

1. Tidak fokus
Para pemilik usaha sering terlena setelah merasa bisnisnya sudah sukses. Kesuksesan pada tahap awal ini membuat Anda mulai tak fokus pada pengembangan usaha, dan malah berusaha membangun usaha sampingan lainnya. Ali mengungkapkan, adalah hal yang wajar untuk memiliki lebih dari satu bisnis. Namun, jangan terburu-buru untuk memiliki banyak cabang dalam waktu dekat, atau membangun bisnis lain dalam saat yang bersamaan, karena hanya akan membuat perhatian terpecah.

2. Konsumtif
Usaha yang sukses akan memberikan penghasilan yang lumayan. Namun, penghasilan sering membuat Anda jadi lebih konsumtif. “Uang yang didapat dari usaha sering dianggap sebagai bonus dan upah kerja keras Anda, sehingga uang lalu digunakan untuk memanjakan diri,” paparnya.

Sifat konsumtif ini akan sangat berbahaya untuk Anda, terutama untuk perkembangan bisnis. Ali menambahkan, sampai saat ini banyak orang yang lebih memilih menghabiskan penghasilan usahanya untuk kepuasan diri seperti membeli gadget, dan lain-lain, ketimbang menginvestasikan uangnya kembali untuk memperbaharui alat atau investasi untuk cabang baru.

3. Tak mau berbagi kepemilikan
Salah satu cara untuk mengembangkan usaha adalah dengan berbagi kepemilikan usaha dengan orang lain. Misalnya melalui penanaman saham, ataupun dengan model waralaba. Namun banyak orang yang takut untuk melakukan hal ini. Mereka berpikir bahwa berbagi kepemilikan akan membuat keuntungan Anda berkurang, atau membuat Anda rugi. Padahal jika dilakukan dengan sistem yang tepat dan kuat, pembagian kepemilikan akan membuat usaha lebih besar.

4. Berhenti berinovasi
Dalam bisnis kuliner, inovasi dan kreativitas merupakan salah satu syarat wajib. Ketika produk usaha kuliner yang dijual sudah mendapatkan respons yang memuaskan dan menghasilkan keuntungan besar, orang cenderung lalai untuk terus berinovasi. Jika ingin sukses berbisnis, sebaiknya selaris apapun usaha Anda jangan berhenti berinovasi dengan berbagai cara. Ingatlah bahwa persaingan akan selalu ada, dan jika tak ingin kalah dalam persaingan sebaiknya tetap kreatif untuk menciptakan inovasi menu baru yang unik.

5. Tidak komersil
Makanan kesukaan seringkali jadi inspirasi bagi seseorang untuk menjadikannya sebuah ladang usaha. Hanya aja, perlu diingat bahwa tak semua makanan yang Anda sukai juga akan disukai orang lain. “Banyak orang yang punya selera berbeda tentang makanan. Sekalipun makanan itu adalah makanan kesukaan Anda, namun tetap sesuaikan dengan selera pasar dan konsumen,” sarannya.

Jangan ragu untuk melakukan survei pasar sebelum menentukan produk yang akan dijual. Kesalahan memilih produk akan berakibat produk Anda tidak komersil dan tidak laku.

6. Persaingan harga
Dalam menjalankan usaha, persaingan memang tak mungkin dihindari. Persaingan ini tidak hanya terlihat dalam persaingan barang dagangan yang sama, tapi juga persaingan harga. “Persaingan harga adalah hal yang harus diantisipasi. Karena seringkali kompetitor Anda akan menjual barang yang sama dengan harga yang lebih murah, untuk menarik pelanggan,” bebernya.

Usahakan untuk menjual produk yang murah namun rasa dan kualitasnya tetap baik. Untuk menghasilkan harga jual yang murah dan kualitas yang baik, tekan sedikit keuntungan Anda. Lebih baik jangan terlalu banyak menargetkan pengambilan keuntungan dari produk yang dijual.

7. Tidak profesional
Menjalankan bisnis bukan sekadar seperti berinvestasi atau menanam modal semata. Banyak orang yang hanya mempertimbangkan masalah modal, dan hanya ingin menikmati hasil keuntungannya saja. Padahal bisnis juga merupakan sebuah proses pembelajaran, serta buah dari pemikiran dan kerja keras yang dilakukan oleh berbagai pihak. Ali mengungkapkan, dalam bisnis sekecil apapun kita tetap membutuhkan sikap profesional dalam menjalankan bisnis, perencanaan keuangan, sampai pemilihan karyawan.

8. Fondasi tidak kuat
Buatlah sebuah perencanaan yang matang di awal bisnis Anda. Sebuah business plan akan sangat diperlukan sebagai bentuk kesiapan usaha. Perencanaan dan fondasi usaha yang kuat akan membuat usaha Anda tidak mudah hancur, karena sudah memiliki berbagai bekal sebagai antisipasi kegagalan.

Selain itu, fondasi usaha juga sangat dibutuhkan sebelum memutuskan membuka sebuah cabang baru. “Cabang yang banyak memang bisa menjadi strategi bisnis yang menguntungkan, hanya saja buat fondasi dan sistem usaha yang stabil terlebih dulu agar cabang selanjutnya bisa sesukses cabang pertama,” sarannya.

Tren dan Tantangan Bisnis Kuliner

Bisnis kuliner merupakan salah satu jenis bisnis yang banyak digandrungi para pengusaha, terutama para perempuan yang berwirausaha. Menurut data dari program Wanita Wirausaha, diadakan majalah wanita ternama, dari 7.000 wanita wirausaha yang terjaring secara nasional, bisnis kuliner berada di urutan kedua (19 persen) setelah fashion (35 persen).

Bisnis kuliner kian marak lantaran memiliki ‘lahan’ yang cukup potensial dan kreatif dalam pengelolaannya. Berbagai kreasi makanan mulai dari yang unik sampai ekstrem digemari pecinta kuliner Indonesia, termasuk dari segmen makanan tradisional.

Tren Bisnis Kuliner

Kepada Kompas Female, di Jakarta, pengusaha Kafi Kurnia, mengatakan dunia kuliner Indonesia terbagi menjadi dua kubu yaitu kubu holistik yang memilih makanan yang sehat, dan kubu lainnya yang lebih memilih makanan mewah, ekstrem atau mencari sensasi kenikmatan kuliner yang berbeda.

Sementara menurut pakar kuliner Sisca Soewitomo, dari hasil pengamatannya beberapa bulan terakhir, para pelaku bisnis yang bermain di lahan kuliner tradisional dan juga makanan cepat saji masih akan mendominasi pada 2012.

“Beberapa bulan terakhir ini, semakin banyak usaha franchise makanan tradisional seperti ayam, bebek, dan lainnya. Ini sebabkan karena citarasanya yang cocok dengan keinginan masyarakat Indonesia seperti sambel, sayur asem, dan lainnya,” jelas Sisca kepada Kompas Female melalui hubungan telepon belum lama ini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Kafe dan restoran Indonesia (Apkrindo), Stevan Lie punya pandangan lain. Menurutnya, bisnis kuliner ke depan memiliki kecenderungan untuk menawarkan makanan segar yang dimasak langsung dari toko penjual bahan makanan.

“Kecenderungannya, orang akan memilih bahan makanan yang fresh untuk dimasak sesuai selera, termasuk dimasak langsung di toko yang menjual bahan makanan segar tersebut,” jelas Stevan Lie, kepada Kompas Female di Jakarta beberapa waktu lalu.

Tantangan Bisnis Kuliner

Apapun pilihan menu makanan yang disajikan, dan siapa pun sasaran kafe atau restoran, Stevan mengatakan bisnis kuliner punya tantangan tersendiri. Pilihan makanan di Indonesia memang sangat kaya, baik dari segi jumlah maupun citarasanya. Namun jika bicara kualitas, masih perlu kerja keras dari kalangan pebisnis kuliner, termasuk asosiasi untuk memberikan edukasi terutama mengenai food safety.

Tak adanya standarisasi food safety menjadi kendala untuk mengukur sejauhmana kualitas kafe dan restoran secara keseluruhan. Bicara food safety, kata Stevan, bukan hanya kualitas makanan, namun juga penyajian, cara mengolah masakan, pelayanan, tingkat kebersihan, hingga bahan baku.

“Ada grup pasar khusus yang lebih mementingkan kualitas dan pelayanan saat makan di kafe atau restoran. Ada juga yang memilih makanan dengan harga murah,” jelas Stevan.

Umumnya, pemain lama di bisnis kuliner cenderung menyasar dua segmen, yakni kalangan menengah atas yang merupakan grup pasar khusus (niche market) atau pecinta kuliner yang lebih mempertimbangkan harga saat membeli makanan.

Menurut Stevan, adalah tugas asosiasi untuk merespons minimnya pengetahuan juga penerapan food safety ini di kalangan pebisnis kuliner. Juga menjadi tugas asosiasi untuk menggalakkan pentingnya food safety termasuk standarisasi kafe dan restoran.

Jika dibandingkan Singapura, Indonesia masih ketinggalan mengenai strandarisasi food safety di kafe dan restoran, katanya. Padahal standarisasi food safety juga penting bagi pelanggan, terutama mereka yang ingin menerapkan gaya hidup sehat. Standarisasi food safety penting untuk menghindari berbagai risiko seperti kasus keracunan makanan di restoran karena pengolahan makanan yang tak sesuai standar, kata Stevan.

“Grade untuk restoran di Singapura diberikan oleh pemerintahnya. Di Indonesia, Apkrindo masih mempersiapkan mengenai standarisasi ini. Membutuhkan waktu panjang untuk bisa memiliki standarisasi seperti ini, apalagi dengan sistem grading,” ungkapnya.

Stevan mengatakan, masih butuh waktu untuk membangun kepercayaan di kalangan pebisnis kuliner itu sendiri, untuk menciptakan standarisasi makanan dan minuman sebagai produk dari kafe atau restorannya. Karenanya, keterlibatan pemilik kafe dan restoran dalam asosiasi dibutuhkan untuk menciptakan industri kuliner yang lebih berkualitas di kemudian hari, agar Indonesia dapat menjadi destinasi wisata kuliner berkualitas.

Apkrindo memiliki kepengurusan yang kuat di Jakarta dan Surabaya. “Di Jakarta ada 30 merek yang tergabung di asosiasi, dan ada beberapa merek yang memiliki lebih dari satu restoran atau kafe. Sedangkan di Surabaya, ada lebih dari 100 merek yang bergabung di asosiasi,” jelas Stevan.

Ia menambahkan, untuk menjadi anggota Aprkrindo, dikenai biaya iuran Rp 3 juta per tahun. “Dana ini dimanfaatkan untuk kepentingan anggota dan wadah edukasi di kalangan pebisnis kuliner, salah satunya training kafe dan restoran, terutama mengenai standarisasi terkait food safety,” jelasnya.

Kiat Bisnis Kuliner

Meski bisnis kuliner menggiurkan, lantaran pasar yang luas selain memang karena makanan adalah kebutuhan utama, Anda tetap perlu memahami berbagai seluk beluk kuliner. Utamanya lagi, Anda juga perlu passion dalam menjalankan bisnis kafe atau restoran.

“Menjalankan bisnis restoran butuh passion, bukan sekadar mengandalkan manajer dan chef. Pemilik restoran juga perlu aktif melakukan quality control, dan hal ini hanya dapat dilakukan jika pemilik restoran memiliki passion di bisnis tersebut. Untuk terjun ke bisnis restoran harus tahu kesulitan. Banyak pendatang baru yang menganggap mudah berbisnis makanan dan minuman, menyerahkan pada manajer dan chef. Biasanya yang seperti ini umur restorannya takkan bertahan lama,” tandas Stevan.

Sementara Sisca menyarankan, pelaku bisnis kuliner sebaiknya lebih memerhatikan pemilihan lokasi dan kenyamanan restoran. “Pemilihan lokasi penting, selain juga kondisi rumah makan atau restoran yang nyaman dan harga murah namun enak,” tambahnya.

Fenomena yang berkembang belakangan juga perlu dicermati, terutama bagi pebisnis kuliner yang menyasar kalangan anak muda. “Anak muda sekarang ini lebih suka duduk-duduk di minimarket yang nyaman, ber-AC, sambil ngopi atau sekedar ngemil. Lokasi yang nyaman dan harga murah ini bisa jadi daya tarik untuk konsumen,” lanjutnya.

Tertarik mengembangkan bisnis ke dunia kuliner? Lagi-lagi, jangan sekadar latah, pastikan Anda memiliki hasrat besar mengembangkan kuliner, jika ingin mendulang sukses di bisnis makanan minuman di Indonesia.

Lima Penentu Keberhasilan Bisnis Kuliner

Jika Anda berminat mencoba bisnis di bidang kuliner, sebaiknya pahami lebih dahulu lima faktor yang menentukan keberhasilan usaha makanan.

1. Kualitas makanan
Hal ini berkaitan dengan rasa dan bahan baku makanan. Selain enak, makanan yang ingin Anda sajikan juga harus aman dikonsumsi bagi kesehatan.

2. Tempat
Selain strategis, Anda perlu mempertimbangkan target konsumen yang dituju.

3. Persepsi
Hal ini berkaitan dengan simbol atau ciri yang digunakan dalam eksterior dan interior, kemasan makanan, dan pelayanan terhadap konsumen. Cara ini akan memudahkan orang mengingat dan datang kembali.

4. Promosi
Selain lewat internet, brosur, papan iklan, ada cara promosi lain yang lebih jitu. Promosi dari mulut ke mulut lebih jitu menarik pasar. Karenanya, pebisnis kuliner perlu menjaga kualitas makanan dan pelayanan. Masyarakat cenderung lebih memercayai kualitas yang diakui oleh pelanggannya.

5. Standar Operational Procedure (SOP)
SOP mencakup faktor pelayanan, menu dan penyajian. Sebaiknya ketiga faktor ini disesuaikan dengan standar yang berlaku.

5 Faktor yang Bikin Bisnis Kuliner Diminati

Prof Dr Alder Haymans Manurung, guru besar Asian Banking Finance and Informatic Institute (ABFI) Perbanas menuturkan, bisnis makanan saat ini tetap menjadi nomor satu. Selain modalnya tidak besar, melibatkan sedikit tenaga kerja, dan perputaran uang di dalamnya sangat cepat. Bahkan bisa lebih dari 100 persen.

Namun sebelum berharap bisnis kuliner Anda meraih sukses, Anda perlu mengetahui beberapa faktor yang memengaruhi maju-tidaknya sebuah usaha kuliner. Dr Handito Joewono, dari Arrbeys, strategy and marketing consulting firm, mengatakan, faktor pertama yang membuat pelanggan datang adalah kualitas makanan. Hal ini berkaitan dengan rasa dan bahan baku makanan.

Kualitas makanan terbagi menjadi dua bagian: yakni real quality dan perceive quality. Real quality lebih kepada enak-tidaknya makanan, dan penggunaan bahan baku. Seperti kalau ada rumah makan yang membuat rendang, santannya harus banyak.

“Padahal kemauan konsumen tidak seperti itu. Banyak santan malah nanti menimbulkan penyakit. Jadi pengusaha kuliner yang baik harus mengombinasikan real quality dengan baik,” paparnya.

Bagi kalangan menengah ke bawah real quality menjadi lebih penting ketimbang faktor perceive quality, karena mereka lebih mengutamakan rasa. Sedangkan bagi kaum menengah ke atas, faktor perceive quality menjadi lebih penting. Makanan tidak sekadar enak, tapi keamanan dan kenyamanan saat bersantap juga diperhatikan. Misalnya, dengan memperhitungkan faktor kesehatan makanan yang dibuat.

Faktor kedua, mengenai tempat. Dalam ilmu standarnya, tempat harus strategis letaknya. Tetapi belakangan, tempat tidak begitu menjadi elemen penting. Karena ada beberapa usaha rumah makan, walaupun tempatnya tidak strategis, tetap dicari orang. Masalah tempat ini, Handito menandaskan, yang penting harus ada kesesuaian antara makanan dan target konsumen yang dituju.

Faktor ketiga adalah persepsi. “Di antara lainnya, faktor persepsi ini yang paling penting,” ucapnya.

Persepsi ini sangat penting, terutama bagi yang baru membuka usaha kuliner. Persepsi bisa muncul dari penggunaan simbol-simbol, baik dalam tampilan eksterior maupun interior ruangan. Selain itu, persepsi juga dibangun dari bagaimana cara mengemas makanan, atau bagaimana melayani konsumen. Persepsi inilah yang kemudian akan selalu diingat orang tentang sebuah tempat makan.

Untuk usaha kuliner kecil, tiga faktor ini sudah cukup. Namun bagi usaha yang ingin berkembang menjadi lebih besar, faktor keempat, yaitu promosi, mutlak diperlukan. Cara untuk promosi saat ini macam-macam. Lewat internet, penyebaran brosur, pemasangan spanduk, billboard, dan lainnya bisa menjadi media promosi. Yang utama promosi ada dua, yaitu lewat media massa dan meminjam lidah konsumen. Memakai lidah konsumen inilah, promosi yang paling efektif.

Bila usaha restoran sudah berkembang besar, sudah punya cabang dimana-mana, faktor kelima yang harus dipenuhi adalah mempunyai standard operational procedure (SOP). Baik untuk kuliner yang diwaralabakan, maupun yang tidak. Tentu saja dengan memakai SOP yang sama, antara resto satu dengan resto lainnya yang bernaung di bawah nama dan manajemen yang sama, bentuk pelayanannya juga sama. Baik dalam soal pilihan menu makanan yang dibuat, penyajiannya, cara melayani konsumen, sampai dengan bentuk fisik tampilannya.

Agar Bisnis Kuliner Tetap Memancing Selera

Boleh jadi bisnis kuliner rumahan milik Anda saat ini berkembang pesat. Meski begitu jangan cukup puas. Produk Anda tetap perlu dikembangkan agar pelanggan tak cepat bosan. Salah satunya dengan menambah variasi menu atau mengembangkan cita rasa agar masakan lebih nikmat. Jika Anda bertanggung jawab pada bagian produksi, tak ada salahnya belajar memasak dengan mengikuti sejumlah kursus.

Kursus memasak memberikan pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk mengembangkan ide kreatif bagi para koki usaha kuliner. Resep yang berbeda setiap kali pertemuan kursus memasak, menjadi sumber ide kreatif bagi mereka yang berbisnis kuliner.

Contoh : ada yang sudah punya usaha pempek, namun tetap ingin belajar masak pempek agar rasanya lebih enak lagi. Melalui kursus memasak, seseorang bisa meng-upgrade dirinya..

Sementara bagi mereka yang awam, kursus memasak menjadi cara praktis belajar menambah ketrampilan. Cukup 2-3 latihan praktik memasak, Anda bisa praktik sendiri di rumah, bahkan menjadikan skill memasak menjadi lahan usaha.

Kemauan belajar dan meng-upgrade ketrampilan menjadi bekal sukses usaha Anda, termasuk bisnis makanan dan minuman yang tak ada matinya.

Seperti diketahui, kebutuhan primer manusia ada 3; sandang, pangan, dan papan. Pastinya, memulai bisnis dalam ketiga hal ini akan bisa menguntungkan bila dilakukan dengan serius dan melakukan perhitungan yang tepat.

Dalam acara peluncuran Lotte Mart UFS Food Professionals Center, Cindy Gunawan, Channel Marketing Manager Unilever Foodsolutions (UFS) mengatakan bahwa pasar kuliner atau horeka (hotel, restoran, dan katering) masih cukup menjanjikan.

‘Kami di UFS percaya, bisnis ini akan tumbuh terus. Di Asia, misalnya, di Hong Kong, 70 persennya makan di luar. Di Indonesia, juga banyak orang yang makan di luar rumah. Coba kita lihat, sekarang pegawai perempuan sudah makin banyak, padahal dulu para wanita sebagai pasangan yang memasak di rumah, sekarang sudah tak sempat. Alhasil, banyak yang makan di luar rumah. Waktu untuk masak jadi lebih dikit, ekonomi terus berkembang. Maka bisnis ini akan terus maju,” jelas Cindy kepada Kompas Female usai konferensi pers yang berlangsung di Lotte Mart Pasar Rebo, Kamis (14/10/2010).

Sementara Adam Djokovich, Managing Director Unilever Foodsolutions Indonesia mengatakan, “Pertumbuhan horeka masih sulit untuk dipatok dalam angka. Namun, kami bisa memastikan prospeknya masih sangat baik. Di Amerika Serikat saja, total pengeluaran rumah tangga seseorang untuk makanan bisa mencapai 50 persen untuk bagian makanan saja. Namun, di Indonesia, home industry untuk makanan bisa mencapai 30 persen.”

Ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai angka prospek dan pertumbuhan di bidang kuliner, Cindy mengungkapkan, “Perusahaan kami tidak bisa memberikan angka prospek pasarnya. Namun, di perusahaan kami, untuk memulai suatu program bisnis, persentase prospeknya pasti double digit, enggak mungkin 1 digit. Jadi sudah pasti bisnis horeka ini masih bagus di Indonesia.”

Tentu keberhasilan sebuah usaha juga tidak bisa bergantung pada perkiraan prospek, akan ada hal-hal lain yang patut dipertimbangkan, seperti keunikan, lokasi, harga, dan persaingan lainnya.

Kuliner Indonesia Jadi Tren, Kini dan Nanti

Seiring bertambahnya kreativitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dunia kuliner juga akan terus berkembang. Beragam varian makanan mulai dari makanan kecil, makanan utama, sampai makanan penutup juga punya banyak varian yang sangat disukai masyarakat Indonesia.

Setelah sempat ‘dikuasai’ serbuan kuliner barat, tahun 2011 merupakan tahun kebangkitan kuliner tradisional Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya restoran-restoran yang menghadirkan berbagai kreasi makanan asli dari Indonesia. Sejumlah pakar kuliner, secara terpisah, menjelaskan alasan di baliknya.

“Setelah selingkuh lama dengan makanan barat, masyarakat Indonesia kangen untuk makan makanan tanah airnya,” ungkap Arie Parikesit, salah satu pendiri komunitas kuliner Jalansutra beberapa waktu lalu di Jakarta.

Selain rasa kangen terhadap makanan asli Indonesia, kebanggaan dan keinginan untuk menggaungkan kenikmatan citarasa kuliner Indonesia pun juga diperkuat dengan dikukuhkannya salah satu masakan Indonesia yaitu, rendang sebagai makanan terlezat di dunia. Makanan asli Sumatera Barat ini menempati posisi pertama dari 50 makanan paling lezat di dunia pilihan pembaca dari voting di situs CNNGo.com.

Salah satu faktor utama yang membuat makanan Indonesia bisa diterima di dunia internasional adalah adanya faktor bumbu yang spesifik dan khas yang ditambahkan ke dalam makanan Indonesia. Dan yang perlu diingat, Indonesia merupakan negara penghasil rempah yang besar dan lengkap maka tak heran jika makanan Indonesia mengandung campuran rempah dan bumbu yang banyak dan khas.

Meski dalam segi rasa ada kemiripan dengan makanan di negara lain, seperti Mediterania, Arab, atau India, namun Indonesia tetap punya citarasa dan ciri khasnya sendiri. “Inilah yang jadi kekuatan dalam makanan Indonesia dan yang sulit dilupakan orang yang sudah pernah menyantapnya,” tukas chef Margie Gunawan kepada Kompas Female beberapa waktu lalu di Jakarta.

Tak hanya itu, keinginan untuk melestarikan makanan khas Indonesia ini juga dilakukan untuk melindungi adanya pengakuan kekayaan kuliner asli Indonesia oleh negara tetangga. Namun, sayangnya kuliner bukan bagian bendawi yang bisa dipatenkan, namun hanya bisa dilestarikan. Maka sepanjang tahun 2011 ini tak heran jika pesona kuliner lokal Indonesia semakin bersinar, seperti rendang, semur dengan beragam citarasanya, opor ayam, nasi uduk, gudeg, pindang patin juga nasi goreng yang istimewa termasuk bagi Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Makanan tradisional yang sehat

Berada di penghujung tahun 2011 sembari merangkak memasuki tahun 2012, pergeseran tren kuliner belum terlihat berubah drastis.

“Yang pasti, di tahun 2012 mendatang, makanan tradisional Indonesia akan lebih populer lagi jauh melebihi tahun 2011,” ungkap pakar kuliner Sisca Soewitomo kepada Kompas Female melalui hubungan telepon.

Diakui Sisca, rasa bangga dan cinta tanah air masyarakat Indonesia pun semakin tinggi, dan juga adanya pengakuan dunia membuat masyarakat Indonesia semakin berani unjuk gigi akan makanan khas daerahnya masing-masing. Namun, bedanya kali ini masyarakat Indonesia sudah mulai peduli kesehatan.

Pada 2012, tren kuliner Indonesia akan bergerak menuju tren makanan tradisional yang sehat.”Mereka sudah mulai memperhatikan makanan yang dimakannya, bukan hanya untuk kepuasan perut saja tapi juga untuk kesehatan,” beber Sisca.

Senada dengan Sisca, pernyataan serupa juga dilontarkan oleh Arie Parikesit seperti dikutip dari Warta Kota beberapa waktu lalu. “Sepertinya orang sudah mulai sadar akan kesehatan. Makanya mereka lebih memilih makanan sehat. Tidak berlemak atau mengandung kolesterol tinggi, ” ujar Arie Parikesit.

Tak hanya itu, makanan yang diprediksi akan booming di tahun 2012 ini adalah makanan segar. Dan tak heran juga bahwa sekarang ini banyak restoran yang sudah mulai menyajikan metode memasak fresh from the oven dengan menggunakan bahan makanan yang masih segar dan bukan frozen atau instan.

“Kecenderungannya, orang akan memilih bahan makanan yang fresh untuk dimasak, termasuk dimasak langsung di toko yang menjual bahan makanan segar tersebut,” jelas Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo), Stevan Lie,

2 Selera Penikmat Kuliner

Penikmat kuliner di Indonesia, secara umum, masih terbagi dalam dua kubu. Satu kubu menyukai dan memilih makanan lebih holistik dengan memerhatikan unsur kesehatan. Satu lagi, kubu yang memilih makanan berdasarkan selera atau kenikmatan, tak terlalu memikirkan faktor kesehatannya.

Kafi Kurnia, dari USA Pear dan Washington Apple Commission yang juga pendiri Tirtayu Healing Center mengatakan, dunia kuliner Indonesia terbagi dua. Sebanyak 50 persen adalah kubu holistik yang memilih makanan sehat. Sementara 50 persennya lagi mereka yang menikmati makanan mewah, menantang, cenderung mencari sensasi dan kenikmatan kuliner yang berbeda.

“Kubu holistik menyukai makanan seperti salad. Kalangan ini akan terus berkembang dalam 1-2 tahun ke depan. Sementara di negara lain, kebiasaan makan sehat sudah dilakukan sejak 7-8 tahun lalu, seperti di Amerika Serikat. Sementara, kubu satunya lagi, orang cenderung mencari kuliner yang ekstrem. Kalau di luar negeri, ada steak berukuran besar, sedangkan di Indonesia ada nasi goreng gila, nasi pedes di Bali dan lainnya,” jelas Kafi kepada Kompas Female di sela demo masak inovasi dan kreasi menu baru dengan buah di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Kafi, dunia kuliner terpecah menjadi dua kubu sejak awal 2000-an, dan terus bertahan hingga kini bahkan di masa mendatang. Meski begitu, keduanya masih menyeimbangkan makanan mereka dengan asupan buah-buahan. Makan buah tetap menjadi pilihan bagi dua kubu penikmat kuliner berbeda selera ini.

Bagaimana dengan Anda? Lebih menyukai makanan yang berbeda dan ekstrem, atau mulai menjaga makanan dengan hanya mengasup hidangan sehat setiap harinya?

Memantau Selera Pelanggan Kuliner

Untuk berbisnis di dunia kuliner Anda memang harus jeli dalam memilih jenis dan rasa makanan, harga, hingga lokasinya. Tanpa memperhatikan faktor-faktor ini, rumah makan Anda pasti akan ditinggalkan oleh pelanggan.

Sebagai pembaca acara Wisata Kuliner, Bondan Winarno tentu sering diundang oleh banyak pengusaha kuliner. Ia pun telah banyak mengamati apa yang dapat dilakukan oleh pemilik bisnis kuliner agar tetap bisa bertahan. Berikut trik mempertahankan bisnis kuliner dari pemilik kedai kopi Kopitiam Oey di jalan Sabang ini:

1. Tidak berdasarkan asumsi. Ada banyak makanan yang muncul karena tren, seperti burger yang full mayones, pisang kipas, atau donat dengan segala modifikasinya. Namun selera orang bisa berubah, dan di samping itu tren juga bisa berlalu. Apa yang disukai orang saat ini belum tentu akan disukai orang lima tahun lagi. Jadi, lakukan inovasi baru dengan menciptakan menu-menu baru untuk pelanggan.

2. Kualitas makanan. Anda pernah kan, memesan menu andalan di restoran langganan Anda, namun mendapati rasa makanannya tak seenak biasanya? Saat koki memasak untuk 10 porsi, rasanya akan berbeda dengan ketika ia harus memasak untuk 100 porsi. Buat standarisasi untuk setiap makanan agar kualitas rasanya tidak berubah.

3. Cari hal yang tidak biasa. ”Anda harus bisa mendeteksi apa yang disukai oleh masyarakat. Tes itu ada di tangan pelanggan. Kalau mereka tidak suka akan mereka tinggal,” jelas Bondan yang ditemui Kompas Female usai peluncuran program HSBC Advance di Rumah Imam Bonjol, Menteng, Senin (15/2/2010).

Dulu pisang pontia menjadi hal fenomenal karena merupakan terobosan baru menyajikan pisang. Namun saat ini, pisang goreng itu merupakan hal yang biasa.

4. Dampak psikologis. Mengapa beberapa cabang rumah makan ayam bakar Wong Solo tutup? Karena ada semacam stigma yang akhirnya masuk ke alam psikologis. ”Ibu-ibu mungkin antipati dan tidak ingin mereka atau keluarganya makan di rumah makan yang diasosiasikan dengan poligami, atau stigma masyarakat yang tidak respek dengan cara pengembangan bisnis kuliner seperti itu,” paparnya.

5. Menguasai ilmu life cycle. Ide kreatif saja tidak cukup. Harus ada hal-hal yang membuat pelanggan terus bertahan. Misalnya dengan merombak tatanan interior (dengan meminta survei dari pelanggan tentang kenyamanan tempat makan, RED), atau mencari lokasi yang memang punya pangsa pasar.

Lokasi akan amat menentukan. Misalnya dekat dengan kampus atau rumah sakit, atau gedung perkantoran. Namun jangan pernah mengubah tatanan restoran hanya untuk menambah pemasukan. ”Saya tidak pernah membuat kedai kopi saya lebih besar. Pengunjung senang berlama-lama di tempat itu karena kecil dan nyaman. Kalau terlalu banyak orang (diperbesar, RED) akan sumpek,” tutur Bondan, yang mengaku jarang menyambangi restoran ataupun kedai kopi miliknya.

6. Selalu memantau selera pelanggan. Lihat apakah mereka memesan menu yang sama. Menu apa yang paling banyak dipesan, atau paling sedikit dipesan. ”Sesekali buat kuesioner mini, tanya menu apa yang perlu ditambah, menu apa yang favorit, atau yang paling jarang dipesan. Ini bagus untuk masukan,” imbuhnya.

7. Price point. Harga dan lokasi memang sering dikaitkan. Namun jangan berani-berani memasang harga tinggi, kalau Anda belum memiliki ciri khas dalam makanan. Terlalu mahal dan rasa masakan biasa-biasa saja? Pelanggan akan pergi.

8. Aset. Anda punya uang, tapi tidak punya keahlian memasak? Koki adalah aset Anda setelah uang. Jadi pastikan Anda memilih koki yang tepat, dan bisa menyajikan masakan dengan rasa yang diinginkan.

Membaca Peluang Bisnis dari Resep Masakan

Urusan lidah dan perut memang tidak bisa sembarangan. Karena itu, olah resep dan ketajaman insting membaca peluang sangat penting bagi pebisnis kuliner. Pasalnya, salah memasukkan satu bumbu saja, pelanggan bisa kabur.

Kekayaan wawasan beragam resep masakan bisa didapat dari banyak sumber. Buku, koran, majalah, internet, dan acara televisi bisa jadi rujukan para “tukang masak” ini. Tetapi, belajar langsung dari koki sebenarnya, lengkap dengan praktik, tentu menjadi nilai lebih tersendiri.

Hadi Kusumo memang bukan jago masak. Tapi, ia punya kantin di daerah mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan, Jalan Ciumbuleuit, Bandung. Usaha bernama Kantin Juwita itu punya kekhasan menyajikan ayam dan ikan dalam rupa presto, alias tulang lunak.

“Kelebihannya, kami bubuhkan juga kremesan di atas daging itu,” katanya saat ditemui di acara Cooking Class East Meet West yang dihelat harian Kompas di Hotel Padma, Kota Bandung, Sabtu (19/6) lalu.

Ia mengaku tidak tahu banyak tentang bumbu-bumbu yang diimbuhkan dalam dagangannya. Pasalnya, masakan setengah jadi dipasok kakaknya. Tugas Hadi adalah menyempurnakannya sehingga bisa mengisi relung perut penyantapnya.

Namun, pelajaran memasak dari Chef Anton Pradipta siang itu bisa menambah wawasannya tentang makanan. Ia menyebut menu iga bakar sego ireng yang diajarkan bisa ia terapkan. “Saya jadi tahu bumbunya. Iga bakal saya ganti dengan ayam atau ikan, sesuai dengan dagangan saya,” katanya.

“Harga makanan di kantin saya seporsi sekitar Rp 12.000. Itu sudah harus bersaing dengan warung tenda di seberang kantin yang harganya lebih murah. Kalau bumbu yang diajarkan tadi saya pakai juga, mau dijual berapa masakan saya?” ujarnya.

Persaingan ketat
Lain lagi dengan Heny Adiaksi. Pengusaha salon dan kafe ini berencana membuka restoran keluarga bercita rasa Indonesia di Jalan Diponegoro. Padahal, di sekitar lokasi itu sudah bertebaran berbagai tempat makan yang menyajikan masakan serupa. Tetapi, ia tak gentar.

“Restoran itu nantinya banyak menyajikan masakan Nusantara, tetapi juga ada makanan ala barat seperti steak atau spaghetti. Dari kelas memasak seperti ini, saya belajar tentang cara penyajian dan pengolahan aneka bahan. Saya yakin masakan di restoran saya nanti bisa bersaing dengan yang lain meskipun sangat mungkin ada menu sama,” kata Heny.

Selain mengandalkan bumbu, Heny yakin lokasi yang tak jauh dari Gedung Sate dan sentra factory outlet di Jalan LL RE Martadinata bakal mendongkrak omzet. Karena berdekatan dengan perkantoran pemerintah, Heny akan menyediakan ruang khusus untuk rapat-rapat pejabat.

Seperti yang dituturkan Heny, peluang berbisnis kuliner masih sangat terbuka. Tentu saja perlu kecerdikan dan keuletan untuk bisa bertahan. Belajar masak dari koki profesional hanya salah satu cara untuk memuaskan lidah dan perut konsumen.

Mendesain Coffee Shop

Salah satu bagian dalam proses membangun bisnis coffee shop adalah mendesainnya. Proses desain ini merupakan awal dari perwujudan bisnis Anda, dari bagaimana coffee shop akan terlihat dari dalam maupun luar, hingga menu apa yang Anda tawarkan. Seluruh aspek desain ini perlu Anda jabarkan di atas kertas, sehingga perencanaan Anda dapat ditangkap dengan jelas oleh investor dan kontraktor yang akan membangunnya. Apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain coffee shop, simak tips dari Carl Hose, penulis dan kontributor Blue Review dan Writer’s Journal.

1. Pilih lokasi dimana coffee shop akan didirikan. Jika Anda tidak dapat langsung memilih lokasi, setidaknya gambarkan tipe lokasi yang Anda cari. Lokasi memang merupakan faktor penting, karena berhubungan dengan cara Anda mendesain eksterior dari coffee shop tersebut. Jika Anda tidak memiliki gambaran lokasi secara spesifik, Anda perlu mencari beberapa ide tentang dimana letak toko yang Anda inginkan.

2. Pertimbangkan warna dan elemen dekoratif yang meningkatkan suasana coffee shop. Misalnya, bagaimana dinding interior maupun eksterior dari toko Anda dicat dengan warna-warna kopi, dan didekorasi dengan lukisan-lukisan tangan bertema kopi. Cangkir kopi, sekantung kopi dengan biji kopi yang tumpah, serta mesin penggiling kopi, adalah ide-ide desain yang baik. Selain lukisan, Anda juga dapat menambahkan dekorasi ruangan dengan barang-barang bertema kopi, seperti mesin penggiling kopi yang antik, atau koleksi cangkir kopi. Ini hanya sekadar contoh saja. Anda bisa menambahkan apa saja sesuai selera Anda.

3. Buat sketsa untuk berbagai desain sebanyak yang Anda bisa, dengan penampilan dalam maupun luar bangunan coffee shop. Semakin baik Anda dapat menjabarkan sketsa tersebut, semakin efektif sketsa tersebut bagi kontraktor untuk melaksanakan kerja konstruksinya. Jika Anda tidak memiliki pengetahuan artistik untuk memindahkan desain Anda ke atas kertas, Anda perlu mempekerjakan seseorang untuk mengerjakan sketsa tersebut untuk Anda. Gambaran dari design plan ini akan membantu Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan selama tahap pembangunan. Anda juga perlu memperhatikan layout lantainya. Anda tentu ingin pengunjung dapat berjalan dengan nyaman tanpa menabrak meja pengunjung yang lain. Pertimbangkan pula furniture yang Anda gunakan. Yang pasti, Anda akan membutuhkan meja-kursi dan sudut-sudut yang nyaman bagi pengunjung untuk ngobrol sambil menikmati kopi. Stools dan meja-meja, beberapa sofa kecil, dan area untuk pengunjung yang membawa laptop adalah beberapa elemen desain yang praktis.

4. Buat desain menu dengan memikirkan apa keinginan pecinta kopi. Karena Anda mendesain coffee shop dari awal, tentu Anda juga harus mempertimbangkan item-item lain yang membantu kesuksesan coffee shop Anda kelak. Selain kopi segar yang baru dimasak, pastry, cake, atau sandwich dapat menjadi tambahan keuntungan pada menunya. Mendaftar menu yang disajikan di atas kertas, dan menemukan supplier yang cocok, adalah bagian dari proses desain yang dapat menghemat waktu dan uang Anda.

Tips Mulai Membuka Bisnis Makanan
Anda berniat membuka bisnis makanan? Ternyata syarat awalnya tidak susah. Anda harus menyukai makanan tersebut! Kemudian, tentu Anda harus jeli mengingat bagaimana suasana tempat makan yang membuat Anda nyaman. Berikut adalah sebagian tips yang dapat Anda ikuti.

1. Pilih makanan yang Anda kuasai resep dan cara pembuatannya.
2. Mulai dari yang sederhana dan mudah dikerjakan. Misalnya, jika ingin membuka restoran khas Jawa dengan menu pecel, belajarlah membuat bumbu pecel yang pas, baik rasa maupun kekentalannya.
3. Membuka bisnis makanan juga bisa dimulai dengan melakukan riset mengenai jenis makanan apa yang belum ada di kawasan tertentu. Dengan demikian, Anda tak memiliki kompetitor langsung di kawasan tersebut.
4. Bila Anda membuka restoran dengan menu yang sudah ada di kawasan tertentu, buat inovasi baru pada restoran Anda. Misalnya, jika restoran Anda menyajikan menu bebek, ciptakan menu bebek yang lain selain bebek goreng. Inovasi juga bisa ditampilkan dengan, misalnya, mengangkat menu “pinggir jalan” menjadi hidangan di restoran dengan pendingin udara.
5. Selalu perhatikan harga jual. Jangan terlalu mahal. Untung sedikit tak apa, yang penting pelanggan datang.
6. Selalu ramah kepada pembeli. Bila Anda dibantu tenaga tambahan, ajari mereka untuk bersikap ramah juga. Banyak restoran tutup hanya karena petugasnya memasang wajah judes, tidak ramah.
7. Memperhatikan dengan baik apa yang diminta pelanggan, termasuk jika ada pesanan khusus untuk makanannya (misalnya, jika pelanggan minta agar makanannya tidak terlalu pedas, tidak memakai seledri, dan lain-lain).
8. Kebersihan selalu nomor satu. Jangan jorok, jangan biarkan lalat beterbangan.
9. Bila pelanggan sudah makin bertambah, sebisa mungkin tambah jumlah pegawai Anda, supaya pelanggan dapat dilayani dengan cepat.
10. Jam buka dan tutup harus teratur. Ganti-ganti jam operasi akan membuat calon pelanggan bingung dan akhirnya malas datang lagi.

Selamat Berbisnis dan Semoga Sukses !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>